Tripcle / Story / Detail Tripcle

Kisah Pendakian Gunung Guntur & Pelajaran dari Pemuda Palestina

https://travel.detik.com/read/2020/03/10/113400/4667158/1025/kisah-pendakian-gunung-guntur-pelajaran-dari-pemuda-palestina
Kisah Pendakian Gunung Guntur & Pelajaran dari Pemuda Palestina
bersama kawan satu tim yang solid

Sedikit inspirasi dari Sarha, pemuda Palestina yang pantang menyerah, bisa traveler jadikan referensi saat mendaki Gunung Guntur dengan ketinggian 2.249 MDPL.

Bagi setiap pendaki, untuk sampai ke puncak, mereka pasti punya tim yang pasti bikin dia kuat. Mencoba bertahan dari napas yang tinggal satu dua (ngos-ngosan), supaya bisa menikmati yang lebih indah di atas sana.

memandang matahari terbit di puncak Gunung Guntur

Dari penulis favorit saya, yakni Sinta Yudisia, saya dapat satu ilmu baru tentang buku 'Walk on the Vanishing Land' karya Raja Shehadeh.

Dia bercerita tentang kebiasaan yang ditanamkan orang-orang Palestina pada para pemudanya. Melalui ia, kita akan belajar mengenal rupa seorang petarung sejati yang mendewasa bersama alam.

Sarha

Sarha adalah pengembaraan seorang diri, menelusuri padang pasir dan jalan-jalan bebatuan untuk berkunjung ke rumah salah seorang kerabat, yaitu kakek, nenek, paman, bibi atau seorang kenalan dari keluarga. Bukan destinasi yang menjadi patokan, tapi peristiwa penuh hikmah yang dirangkum sepanjang perjalanan.

Bukan perkara mudah melintasi padang pasir. Ia merupakan sebuah perjalanan berbahaya menghadapi ular, kalajengking, badai pasir, dinginnya malam, terik siang yang membakar.

Selain ketrampilan teknis yang dibutuhkan untuk survival, Sarha membantu para pengembara mengamati apa yang selama ini terlewat dari indera. Suara angin, butir-butir pasir yang beterbangan, gerakan binatang melata, gesekan kaki, jejak yang tertinggal di padang.

Belajar menangkap gerakan alam yang paling halus, berarti belajar mendengarkan apa yang mungkin terlewatkan.

perjalanan mendaki yang sulit

Barangkali seperti inilah para pendaki harus belajar pada setiap fase menuju puncak. Masing-masing dari kita perlu menantang, sejauh mana bisa berbuat untuk orang lain, di saat diri sendiri juga kesulitan. Pada kehidupan sehari-hari, bukankah begini yang Rasulullah tauladankan?

Kalau pemuda Sarha berjalan sendirian di padang pasir, maka para pendaki berjalan bersama dan harus belajar untuk berhenti bicara tentang aku, tapi kita. Tidak terus-menerus menunjukkan siapa saya, tapi inilah kami.

Semakin ke puncak, maka cara pandang bisa semakin meluas, sejalan dengan luasnya satu bagian bumi yang dilihat dari atas. Tidak buru-buru mengkerdilkan suatu perkara, tidak tergesa-gesa menyimpulkan kelalaian. Semakin mendaki ke ketinggian, semakin bungkuk berjalan, semakin mawas, semakin sulit bila hendak jumawa. Bukankah hebat sekali hidup para pendaki ini?

Satu Puncak, Satu Coretan

Beruntung, Sarha tak pernah meloloskan para pelakunya dengan begitu mudah. Perjalanan tanpa kendaraan itu dihabiskan selama berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan.

menuju puncak Guntur 2.249 mdpl

Ketika pertama berangkat, para pengembara hanyalah sosok kurus, ceking, lemah, tak dilirik sama sekali, maka Sarha akan mengubahnya di kemudian hari menjadi sosok yang tak akan pernah lagi sama dengan sebelumnya: tubuh kekar, berotot, kuat, garis wajah keras.

Lantas bagaimana dengan jiwa para alumnus Sarha?

Para pengembara hasil didikan Sarha tak akan mudah goyah pendiriannya. Mereka akan selalu siap bertempur bahkan ketika sedang nyenyak tertidur. Mereka akan berdiri dengan cara pandang luas, sikap yang bijak, dan hati yang demikian lapang.

Artinya, dalam satu kali perjalanan panjang dan melelahkan, para pemuda Sarha berhasil mencoret tidak hanya satu misi, tapi belasan, mungkin juga puluhan. Sebab setibanya di rumah kerabat, mereka sudah dalam keadaan yang jauh berbeda.

Ditambah sekembalinya ke rumah sendiri, mereka akan berubah total. Ya fisik, ya akal, ya cara berpikir, ya prinsip hidup. Semuanya perlahan menjadi matang.

Apakah para pendaki bisa menyejajarkan kondisi diri dengan para pemuda Sarha?

Saya rasa sangat bisa. Caranya sederhana: tengok tujuan dari setiap perjalanan. Karena apa yang dituju, adalah apa yang didapatkan. Kalau ingin mencoret banyak misi, maka siapkan narasi besar dalam hidup, desain setiap perjalanan dengan tujuan yang kokoh, sabar dalam prosesnya, doa tanpa jeda, dan.. just do it!

Malam pertama di pos 3 lereng guntur, saya berhasil membuat 10 resolusi prioritas tahun 2016, yang sebelumnya selalu tertunda dibuat. Lalu saya sebut dalam hati, jika Allah mengizinkan, semoga saya bisa mencoret setiap resolusi itu di puncak gunung, kemudian menambah yang baru lagi, dalam posisi sama: on the top. Insyaa Allah

Puncak Guntur siang hari

Kalau nanti naik gunung lagi dalam waktu dekat, 1 bulan kemudian misalnya, maka saya akan semakin termotivasi untuk segera menyelesaikan daftar resolusi itu, sebelum sampai ke lokasi pendakian. Sebab di puncaknya nanti, saya harus mencoret satu resolusi yang sudah terlaksana.

Sebab mendaki perlu kaki dan pundak yang kokoh, maka saya ingin terus membersamai tim kecil ini sampai di kemudian hari, kami punya kabar bahagia, bahwa sekembalinya dari pendakian, kami juga punya tekad dan kesiapan lebih untuk mengokohkan keimanan.

Jadi, kapan kita nanjak lagi?

Berita wisata dan travel terkait

Lihat juga berita travel lainnya

Asyik, Sekarang Bisa Naik Kereta Api Jakarta-Garut, Tiketnya Rp 45 ribu

Palestine Walk di Bandung Dukungan RI Buat Kemerdekaan Palestina

Mendaki Ciremai via Linggarjati, Simak 10 Hal Penting ini!

10 Tips Mendaki Gunung Salak yang Aman dan Nyaman

Pilot Emirates Ditangguhkan dari Pekerjaan Karena Tolak Terbang ke Israel

10 Destinasi Liburan di Jawa Barat Selama Musim Libur Natal 2023

Turis Israel Banyak yang Bermasalah, Indonesia Yakin Mau Terima?

Di Kampung Ini, Jumlah Domba Lebih Banyak dari Manusia

Komentar

No results found.

Tulis komentar

Math, for example, 45-12 = 33

Berita trending

Tips wisata dan travel