Tripcle / Story / Detail Tripcle

Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'

https://travel.detik.com/read/2020/04/01/155436/4963329/1382/anak-anak-yang-tak-lagi--bisa--jadi-anak-anak
Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'
Anak-anak terpaksa memanggul senjata di salah satu desa di Meksiko (Alexandre Meneghini/Reuters)

Chilpancingo - Seharusnya anak-anak bisa bermain dengan bebas dan bersekolah dengan ceria. Tapi di Meksiko, anak-anak harus memegang senjata.

Begitulah fakta yang menggemparkan dunia. Anak-anak usia sekolah dilatih memegang senjata di desa mereka.

Alih-alih sekolah, mereka harus berhenti bermain dan justru memegang senjata. Itu semata-mata untuk membela diri.

Seperti yang diberitakan Reuters, desa-desa di negara bagian Guerrero barat daya hidup di bawah tekanan dan tak memiliki pilihan. Mau tidak mau, kepala keluarga harus menyerahkan anak-anak untuk ikut militer.

Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'

Foto: Alexandre Meneghini/Reuters

David Sanchez Luna, wanita berumur 56 tahun, memiliki pengalaman pahit karena tak sanggup membela keluarganya. Dia tak bisa memegang bedil.

Ketidakmampuan itu arus dibayar mahal. Dia cuma bisa pasrah ketika ibu mertuanya disiksa dan dibunuh oleh kartel narkoba saat memutuskan untuk meninggalkan gerombolan itu.

Kini, dia dengan sukarela menyerahkan dua putrinya, tujuh tahun dan 12 tahun, untukmengikuti pelatihan senjata.

"Mereka harus melakukan ini untuk mempersiapkan diri membela keluarga, saudara mereka, dan membela desa," ujar Sanchez Luna.

Langkah penduduk desa untuk menyerahkan anak-anak mereka membetot perhatian dunia. Media-media lokal memamerkan bagaimana anak-anak usia sekolah memegang senjata dan menampilkan manuver militer.

Tetua di sana pun mengatakan bahwa mereka tidak akan menggunakan anak-anak untuk memerangi ataupun menembak para kartel narkoba. Mereka mengambil langkah berjaga seperti ini setelah putus asa mendapatkan bantuan dari petinggi yang jauh di Meksiko City.

Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'

Foto: Alexandre Meneghini/Reuters

Bulan lalu, ditemukan 10 orang tewas dengan tubuh terbakar. Mereka disergap dan dibunuh oleh kartel Los Ardillos setelah keluar dari wilayah pengamanan yang dijaga oleh sesama mereka atau yang mereka sebut CRAC-PF.Itu bukanlah serangan pertama. Beberapa tahun terakhir serangkaian pembunuhan termasuk pemenggalan tubuh yang mengguncang 6.500 penduduk tanah nan subur tersebut. Kekerasan kepada penduduk pun tidak terbendung lagi.

Falko Ernst, seorang analisis International Crisis Group (ICG), mengatakan bahwa ini adalah seruan publik yang telah terpojok. Mereka berusaha mendapatkan bantuan pemerintah federal dan negara bagian dan tidak berhasil. Dan cara mereka (melatih anak-anak memegang senjata) adalah bahasa lain yang digunakan untuk negosiasi dan meminta bantuan.

Tentu saja, pemerintah pusat mengecam cara ini.

Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'

Foto: Alexandre Meneghini/Reuters

Para orang tua mengatakan bahwa anak-anak mereka terpaksa berhenti sekolah, karena sekolah berada di kawasan yang dikuasai kartel.

Masih melekat dalam ingatan Abuner Martinez, remaja usia 16 tahun, saat ayahnya diculik di luar wilayah pengamanan CRAC-PF, disiksa kemudian dipenggal. Sejak itu dia takut untuk keluar dan pergi sekolah.

CRAC-PF pernah menangkis serangan besar Los Ardillos pada Januari 2019. Tetapi penduduk hidup dalam ketakutan akan sirene, sistem alarm komunitas, kembali berbunyi dan menyisakan trauma.

Para petani pun harus menyandang senjata di punggung mereka saat berladang. Orang dewasa saja merasa ketakutan, bagaimana dengan anak-anak?

Mereka harus meninggalkan sekolah. Mereka tidak bisa menikmati waktu menjadi anak-anak sepenuhnya tatkala harus memegang senjata dan berlatih menggunakannya.

Berita wisata dan travel terkait

Lihat juga berita travel lainnya

Cerita Muhlis Eso, Pendiri Museum Swadaya Perang Dunia II

10 Tempat Wisata Surabaya yang Hits dan Wajib Dikunjungi

Liburan Akhir Pekan di Sekitar Jakarta, Kunjungi 14 Tempat Wisata Ini

Gedung Nuklir Tersembunyi di Kota Hantu Polandia

Mengenal Suku Jawa, Sejarah, dan Kebudayaannya

4 Tempat Wisata Ramah Anak di Yogyakarta, Cocok untuk Akhir Pekan

Inilah 7 Kota Terbaik Dijelajahi Berjalan Kaki Versi BOOKING.COM

Bagaimana Pria Ini Kunjungi 7 Keajaiban Dunia dalam 7 Hari?

Komentar

No results found.

Tulis komentar

Math, for example, 45-12 = 33

Berita trending

Tips wisata dan travel